Tulisan Sketsa* Lemah Abang Rambut di atas bahunya, beberapa helai di-highlight biru harum manis, sisanya diwarnai coklat keemasan. Atasan batik yg dikenakannya bernuansa warna senada, biru, coklat keemasan dengan latar hitam. Dia kasir di rumah makan limasan kayu Lemah Abang. Kehadirannya langsung mencolok di antara perabotan dan bangunan kayu sederhana. Sepanjang pengamatanku rumah makan itu dikelola perempuan semua. Mulai dari yang masak, kasir, hingga pramusaji. Termasuk dirinya. Memasuki bangunan itu bak mengintip era cerita silat Api di Bukit Menoreh, nasi dimasak dengan kayu, semua hidangan di dalam panci gerabah, pencahayaan seadanya. Di tengah suasana Jawa abad-16, perempuan yang kuperkirakan berusia awal 20an itu seperti datang dari masa depan. Ketika tak sengaja melewati rumah makan itu, aku sempat tertawa membaca namanya: Lemah Abang. Terdengar terlalu vulgar, apalagi untuk hitungan Yogya. Lalu kemudian aku menertawakan ketololanku, _dasar otak piktor...
Tulisan lama sekali yang tidak pernah dipublikasi di mana pun: MENCARI SEKOLAH IDAMAN By: Kanti W. Janis Bisa pergi ke sekolah dengan hati yang gembira adalah hal yang selalu saya impikan. Menurut saya belajar itu seharusnya adalah proses yang menyenangkan, bukan sebaliknya. Berangkat dari keinginan itulah lantas saya mempunyai cita – cita untuk bisa sekolah di luar Indonesia , alias ke luar negeri. Cita – cita itu terjadi karena selama saya sekolah di Indonesia ( saya pernah belajar di sekolah negeri maupun sekolah swasta Katolik), saya sama sekali belum pernah merasakan nikmatnya belajar di sekolah. Saya selalu pergi ke sekolah dengan perasaan ketakutan, tertekan, dan malas. Bahkan sangking tertekannya dulu di sekolah saya sering sakit – sakitan, paling sering kena maag atau radang usus, yang ajaibnya kedua penyakit itu menghilang saat saya lulus sekolah. Lalu selepas SD, banyak teman – teman yang meneruskan sekolah ke luar negeri, dari mereka saya mendengar...