Tulisan lama sekali yang tidak pernah dipublikasi di mana pun: MENCARI SEKOLAH IDAMAN By: Kanti W. Janis Bisa pergi ke sekolah dengan hati yang gembira adalah hal yang selalu saya impikan. Menurut saya belajar itu seharusnya adalah proses yang menyenangkan, bukan sebaliknya. Berangkat dari keinginan itulah lantas saya mempunyai cita – cita untuk bisa sekolah di luar Indonesia , alias ke luar negeri. Cita – cita itu terjadi karena selama saya sekolah di Indonesia ( saya pernah belajar di sekolah negeri maupun sekolah swasta Katolik), saya sama sekali belum pernah merasakan nikmatnya belajar di sekolah. Saya selalu pergi ke sekolah dengan perasaan ketakutan, tertekan, dan malas. Bahkan sangking tertekannya dulu di sekolah saya sering sakit – sakitan, paling sering kena maag atau radang usus, yang ajaibnya kedua penyakit itu menghilang saat saya lulus sekolah. Lalu selepas SD, banyak teman – teman yang meneruskan sekolah ke luar negeri, dari mereka saya mendengar...
Sejak dulu sebagaimana saya tulis dalam thesis master saat kuliah LLM di Universitas Groningen, Belanda, tahun 2007, ketika membicarakan sebuah negara kita harus memisahkan antara penduduk dengan pemerintahnya. Bedakan antara penduduk dengan para aktor negara. Waktu itu konteksnya saya menolak sanksi ekonomi Dewan Keamanan PBB (DK PBB) terhadap Irak dan Libya. Katanya sanksi itu untuk menghukum Saddam Hussein dan Muammar Gadaffi. Jika DK PBB memvonis Hussein dan Gadaffi bersalah, mengapa seluruh penduduknya harus dihukum juga? Sebuah negara tidak bisa dihukum titik. Karena negara bukan individu, pemerintah bukan wajah dari penduduknya, negara bukan sebuah entitas homogen. Bahkan seringkali warga berjuang melawan rezim otoriter di suatu negara. Apalagi dengan berbagai manipulasi dalam pemilihan umum rakyat semakin tidak terlibat dalam pembuatan kebijakan. Sanksi ekonomi DK PBB telah menewaskan setidaknya 500.000 anak-anak di Irak, hanya demi memburu Saddam seorang. Kesimpulan...