Menurut tanggalan mana pun aku sudah tidak muda lagi. Setidaknya menengok kanan kiri ketika Lebaran satu-persatu orang yang dulu harus aku sungkemin sudah tidak ada. Itu penanda, kan, bahwa waktu terus bergulir. Sang Kala menelan kita berurutan, meski tak selalu sesuai urutan lahir. Misalnya, keponakan pertama ditelan lebih duluan waktu usianya baru delapan bulan. Uban mulai bertumbuhan, walau dibanding kawan segenerasi pertumbuhannya masih bisa dibilang lambat. Ada juga kawan-kawan dari generasi lebih tua tapi ubannya hanya satu dua. Oke, jadi menua dan banyaknya uban tak selalu pararel. Kerutan juga belum tampak. Sebagaimana kerutan hanya menggores tipis-tipis wajah ibu. Sang Kala memang sopan dalam menunjukan kehadirannya pada fisik kami seketurunan. Hingga akhir hayat di usia 63 tahun, Ayah tak mengalami kebotakan. Rambutnya tetap tebal rapat, wajahnya bebas kerutan, uban tumbuh tanpa mendominasi. Kadang jika hanya berkaos santai saat berpergian seorang diri tak jarang aku dis...
Pemilihan langsung sudah lama menjadi sekedar ilusi. Dalam menentukan calon legislatif dan eksekutif semua kuasa ada di tangan partai politik. Calon independen seperti DPD juga kebanyakan berafiliasi langsung dengan parpol, pun ketika terpilih fungsinya dalam membuat kebijakan sangat lemah. Parpol telah memilihkan semuanya untuk kita. Ada banyak nama di kertas pemilihan, tapi mereka semua mau tak mau melayani kepentingan parpol, bukan kepentingan elo, kecuali elo anak ketua umum parpol. Jangan GR! Sekarang parpol besar telah begitu mengakar kekuasaannya. Mereka punya orang di setiap sendi-sendi pembuat kebijakan, punya modal sosial dan duit, kans partai baru idealis untuk bersinar sangat sulit dengan sistem pemilu serba mahal. Parpol akan terus pragmatis dengan sistem suara terbanyak, mereka akan melayani kepentingan para kelompok terkaya--wong merekalah penguasa dunia sebenarnya. Hubungan simbiosis mutualisme. Parpol butuh uang banyak untuk menang, orang terkaya butuh kebijakan-k...