Skip to main content

Ingatan, Kapitalisme dan Kematian

Menurut tanggalan mana pun aku sudah tidak muda lagi. Setidaknya menengok kanan kiri ketika Lebaran satu-persatu orang yang dulu harus aku sungkemin sudah tidak ada. Itu penanda, kan, bahwa waktu terus bergulir. Sang Kala menelan kita berurutan, meski tak selalu sesuai urutan lahir. Misalnya, keponakan pertama ditelan lebih duluan waktu usianya baru delapan bulan.

Uban mulai bertumbuhan, walau dibanding kawan segenerasi pertumbuhannya masih bisa dibilang lambat. Ada juga kawan-kawan dari generasi lebih tua tapi ubannya hanya satu dua. Oke, jadi menua dan banyaknya uban tak selalu pararel. Kerutan juga belum tampak. Sebagaimana kerutan hanya menggores tipis-tipis wajah ibu. Sang Kala memang sopan dalam menunjukan kehadirannya pada fisik kami seketurunan. Hingga akhir hayat di usia 63 tahun, Ayah tak mengalami kebotakan. Rambutnya tetap tebal rapat, wajahnya bebas kerutan, uban tumbuh tanpa mendominasi. 

Kadang jika hanya berkaos santai saat berpergian seorang diri tak jarang aku disangka masih kuliah. Awalnya senang, lama kelamaan jengah. Baiklah tanda penuaan fisik bisa ditunda, namun, panggilan Sang Kala tak terhindari, sekaya, seawet muda dan seberkuasa apa pun! 

Jika membayangkan kematian aku memikirkan betapa sia-sianya ingatan milikku ini. Seperti ketika tanggal 20 Januari lalu memasuki hotel tempat kami sekeluarga selalu menginap di kota Solo, aku sudah begitu hafal. Aku melangkah memasuki lobi hotel dan berjalan ke arah dua lukisan seorang perempuan bermata lebar, berkebaya lengkap dengan sanggul Jawa-nya. Dua lukisan itu dipasang bersebelahan dengan pose reflektif. Aku hanya ingin memastikan lukisan itu masih ada di sana, sesuai rekaman ingatan yang telah lama bersarang di memori. Lukisan itu karya D. Panuluh, terbaca dari tanda tangannya, diselesaikan tahun 1997. Sejak lama aku menduga lukisan itu karya Dudut Panuluh. Suami dari guru lukisku, Yetti N.R., keduanya telah ditelan Sang Kala. Aku cukup yakin sudah pernah menyampaikan mengenai lukisan itu kepada Tante Yetti, tapi tak ada kepastian apakah itu benar, sebab di masa itu belum ada kamera handphone seperti sekarang. Jepret kirim. 


Aku tak rela harus berpisah dengan ingatan-ingatan ini. Mereka adalah identitasku. Buatku peristiwa lampau tidak ada yang buruk. Kejadian buruk, menyakitkan, memalukan di masa lalu hanya menjadi kenangan, pelajaran atau tertawaan. Aku sangat mencintai hadiah kehidupan ini. Aku cukup merasa puas dan bangga sebagai manusia bebas. Jalan hidupku sering dianggap tidak konvesional, selalu keluar dari arus utama. Sebenarnya jika semua orang berani jujur mengikuti kata hati, hidup tanpa rasa takut berlebih---pasti rasa khawatir itu ada----, maka semua menempuh jalur hidup berbeda. Unik. Sayangnya, kita telah sedemikian rupa dibentuk oleh sistem kapitalis. Kontrol mereka sudah otomatis merasuk ke dalam alam bawah sadar, sehingga dirasa sebagai kemerdekaan. Keseragaman itu efisien. Semakin efisien ongkos produksi semakin murah, profit semakin besar. Iyalah, jika setiap anak dibikinkan program pendidikan sesuai bakat dan minat uniknya ongkosnya mahal, bagaimana bisa mengeruk untung? 
Masyarakat harus mendukung kapitalisme secara sukarela dan gembira, supaya tidak ada ongkos untuk menanggulangi masalah kesehatan mental. Jika mengalami masalah kesehatan mental ya tanggung sendiri.

Otak bisa dimanipulasi, bisa berbohong bahwa kita menikmati standar kehidupan umum, tetapi tubuh tidak bisa dibohongi. Tubuh begitu jujur. Setiap terjadi eksploitasi, setiap hilangnya keseimbangan dan sinkronikasi antara jiwa dan raga, tubuh akan menunjukkan protesnya dalam bentuk sakit. Berbagai sakit fisik dan psikis bermunculan. Apabila terlalu lama diacuhkan signal tubuh, maka ia akan berhenti.

Kita terlalu dibiasakan untuk tidak menghiraukan intuisi. Katanya hanya sekedar perasaan, padahal intuisi ini bekerja lebih cepat dari otak dalam memberitahukan ada keganjilan, ada yang tidak pas. Intuisi bisa melemah atau menguat tergantung bagaimana kita melatihnya. Jangan didiamkan.


Solo, 22 Januari - Jakarta, 3 Februari 2026




Comments

Popular posts from this blog

Kesetaraan Dimulai dari Gratiskan Pembalut

 Kesetaraan Dimulai dari Gratiskan Pembalut Kanti W. Janis Jakarta, 27 Mei 2025 Masih banyak yang beranggapan dan membenarkan baik dalam hal gaji, upah, honor, maupun warisan, perempuan sepantasnya mendapat bagian lebih sedikit dari lelaki. Dalam membenarkan pendapat tersebut maka dipakailah berbagai landasan, mulai dari agama, adat hingga kebiasaan. Gaji, honor, dan warisan merupakan sumber pendapatan bagi seseorang. Bagi manusia modern yang telah jauh terpisah hidup dari alam, kita membutuhkan pendapatan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, termasuk aktualisasi diri. Nah, j ika mau bicara kebutuhan dari segi biologis, kebutuhan perempuan secara alamiah lebih besar daripada pria. Sejak usia pubertas hingga menopause, perempuan harus membeli pembalut. Rata-rata biaya yang dikeluarkan perempuan setiap bulan untuk pembalut sekitar Rp31.500-Rp42.000 ( dikutip dari Kumparan ). Menjalani menstruasi bukan sebuah pilihan, semua perempuan mengalaminya.  Sementara laki-laki ...

Danantara, Skema Sempurna Menjual Indonesia

Oleh: Kanti W. Janis IG @penulis_optimis Blog: kaweje.blogspot.com Jakarta, 1 Maret 2025 Aku meminjam uang untuk perusahaan-perusahaan milikku. Perusahaan itu ada yang jasa perbankan, jasa transportasi massa, perdagangan beras, perdagangan pupuk, sampai pengembang perumahan. Sayangnya aku gagal bayar karena terlalu banyak mempekerjakan orang-orang titipan keluarga yang tidak kompeten. Perusahaan-perusahaan itu merugi parah. Daripada bubar, akhirnya aku menggabungkan semua perusahaanku ke dalam sebuah perusahaan baru bernama PT. Kekenyangan. Lalu utang yang belum terbayar dari perusahaan-perusahan tersebut aku konversi menjadi saham PT. Kekenyangan. Saham itu aku tawarkan kepada kreditur dan beberapa calon investor. Kreditur tidak perlu menaruh modal tambahan lagi. Cukup ikut memiliki PT. Kekenyangan, ia punya kontrol dan turut menikmati keuntungannya. Maka si kreditur setuju dengan tawaran win-win solution tersebut. Karena utangku besar, utang yang telah diubah jadi saham PT. Kekeny...

Bangkok: Melampaui Toleransi

Bangkok:Melampaui Toleransi* oleh: Kanti W. Janis Memasuki udara Bangkok sangat mirip dengan Jakarta. Panas dan lembab. Kemacetannya juga membuat de javu, meski lebih longgar sedikit. Bangkok seperti Jakarta adalah tempat bertemunya berbagai suku bangsa. Tempat bertemu beragam manusia. Bangkok mungkin lebih internasional daripada Jakarta, mudah sekali menemukan bermacam warga asing di setiap sudutnya yang terlihat begitu membaur dengan kehidupan lokal. Sudah bukan turis lagi. Ini sempat membuatku bertanya mengapa Bangkok lebih mengglobal daripada Jakarta? Padahal dari segi bahasa rasanya Jakarta lebih ramah bahasa Inggris daripada di Bangkok. Setidaknya bahasa Indonesia sudah memakai aksara latin. Aku menerka salah satu faktornya ialah aura kemerdekaan di Bangkok sangat terasa. Bukan basa basi belaka.  Setidaknya secara kasat mata, terlihat bahwa setiap individu bebas memeluk identitas dirinya. Bebas berpakaian, bebas menentukan gender, bebas beribadah sesuai agama masing-masing, b...