Pemilihan langsung sudah lama menjadi sekedar ilusi. Dalam menentukan calon legislatif dan eksekutif semua kuasa ada di tangan partai politik. Calon independen seperti DPD juga kebanyakan berafiliasi langsung dengan parpol, pun ketika terpilih fungsinya dalam membuat kebijakan sangat lemah.
Parpol telah memilihkan semuanya untuk kita. Ada banyak nama di kertas pemilihan, tapi mereka semua mau tak mau melayani kepentingan parpol, bukan kepentingan elo, kecuali elo anak ketua umum parpol. Jangan GR!
Sekarang parpol besar telah begitu mengakar kekuasaannya. Mereka punya orang di setiap sendi-sendi pembuat kebijakan, punya modal sosial dan duit, kans partai baru idealis untuk bersinar sangat sulit dengan sistem pemilu serba mahal.
Parpol akan terus pragmatis dengan sistem suara terbanyak, mereka akan melayani kepentingan para kelompok terkaya--wong merekalah penguasa dunia sebenarnya. Hubungan simbiosis mutualisme. Parpol butuh uang banyak untuk menang, orang terkaya butuh kebijakan-kebijakan demi memuluskan bisnisnya, menalangi usahanya jika bangkrut, melindungi dari jerat pasal tipikor.
Sistem pemilu kita begitu buruk dan konyol. Tapi hanya segelintir pengritiknya. Coba pikir, dari pemilu sedemikian rumit maha mahal, ratusan juta penduduk malah memberikan kekuasaan begitu besar pada satu orang? Orang itu bisa menentukan kapan kita mau perang, menentukan daerah operasi militer, memaafkan koruptor, menghabiskan uang rakyat triliyunan perhari, menangkap rakyat kritis, membungkam pers, dan berbagai kegilaan lainnya. Lalu ketika presiden ngawur bukan kepalang sulit sekali menggantinya, contohnya butuh 30 tahun lebih untuk menggulingkan Suharto, setelah jutaan nyawa melayang, triliyunan rupiah lenyap dikorupsi.
Kita tidak akan mampu menciptakan pemerintahan adil dan sejahtera selama pemegang kedaulatan alias penguasa sebenarnya adalah para orang terkaya di dunia. Semua kebijakan termasuk aturan main di dalam politik elektoral akan selalu diarahkan untuk melindungi kepentingan bisnis mereka.
Untuk memahami ini kita tidak bisa memisahkan urusan ekonomi dengan politik. Sistem perekonomian harus diperbaiki, reformasi sistem keuangan kita. Jangan terdistraksi oleh wajah-wajah hiasan partai. Mereka semua tak lain sekedar dekorasi partai politik. Sebaik-baiknya seorang individu ketika sudah masuk di dalam sistem, maka ia harus tunduk, atau setidaknya melakukan banyak kompromi agar bisa mempertahankan posisinya.
Pemilu katanya didesain untuk menciptakan pemerintahan demokratis, dari rakyat untuk rakyat. Hari ini kalimat seperti itu semakin jauh panggang dari api. Kita malah menciptakan raja dengan kekuasaan absolut. Mikir!
Solo, 23 Januari 2026 (05.10 am)
-Kanti W. Janis-
Comments
Post a Comment