Tulisan lama sekali yang tidak pernah dipublikasi di mana pun:
MENCARI SEKOLAH IDAMAN
By: Kanti W. Janis
Bisa pergi ke sekolah dengan
hati yang gembira adalah hal yang selalu saya impikan. Menurut saya belajar itu
seharusnya adalah proses yang menyenangkan, bukan sebaliknya. Berangkat dari
keinginan itulah lantas saya mempunyai cita – cita untuk bisa sekolah di luar
Begitu mendekati kelulusan
S1, saya mulai mencari – cari informasi mengenai belajar kel3uar negeri.
Tujuan awal saya adalah ketika itu adalah Melbourne, dengan
pertimbangan banyak sahabat saya yang tinggal disitu, jadi saya tidak harus
benar – benar memulai segalanya dari nol.
Setelah menentukan kota dan universitas tujuan, saya mencari tahu
apa saja yang saya perlukan supaya dapat bersekolah di sana, termasuk datang ke
pameran pendidikan
Ketika itu saya sudah diterima bersyarat ( conditional offer) di
Universitas Melbourne, hanya tinggal menunggu hasil IELTS. Tapi Tuhan rupanya
punya rencana lain untuk saya. Secara tidak sengaja saya melihat sebuah brosur
bertuliskan, “ Pendidikan di Jerman hanya 40 juta rupiah”. Tidak, saya tidak
lantas berubah pikiran untuk sekolah ke Jerman, tapi ke Belanda! Pikiran saya
Belanda itu
Pengetahuan saya tentang studi di Belanda benar – benar nol. Saya tidak punya kontak dari satu pun teman yang sudah bersekolah di sana. Jadi saya pergi ke NEC ( saat
ini NESO) untuk mendapatkan
informasi studi di Belanda yang selengkap - lengkapnya.
Di NEC semua informasi tersedia dengan lengkap dan gratis. Bahkan waktu itu untuk
pengiriman dokumen juga gratis. Saya mendaftar ke dua Universitas:
Persiapan saya pergi ke Belanda tergolong cepat, sekitar 3 bulan
saja. Banyak dokumen yang harus diurus. Surat kelakuan baik dari kepolisian,
akte kelahiran yang diperbaharui, legalisir ini - itu, menerjemahkan
semua dokumen ke Bahasa Inggris, dan lain – lain. Komunikasi dengan pihak RuG pun juga sangat mudah,
setiap baru kirim e-mail tidak jarang pada hari yang sama langsung dibalas, hal
– hal yang bersangkutan dengan ijin tinggal disana pun diurus oleh pihak
universitas. Kemudahan – kemudahan inilah yang membuat saya semakin tertarik
Detik – detik keberangkatan saya benar – benar mempersiapkan
diri. Saya melatih diri dari hal yang kecil – kecil, mulai pergi ke Bandung
sendirian, naik pesawat sendirian, lalu belajar masak makanan kesukaan, sampai
belajar menjahit kancing. Intinya hal – hal kecil yang selama ini tidak bisa
saya lakukan, saya coba lakukan sendiri, supaya nanti saat hidup sendiri saya
tidak kerepotan oleh hal – hal remeh tesebut.
Lalu soal pencarian akomodasi di Groningen sebetulnya
bisa diurus oleh housing office dari
RuG, tapi yang membuat saya malas menggunakan jasa mereka adalah kami harus
menaruh uang deposit sebesar 350 Euro, dan tidak ada jaminan bahwa kami akan
mendapatkan rumah, ditambah 175 Euro sudah pasti hangus. Kendala lainnya, dari
sekian banyak kamar yang ditawarkan sulit sekali menemukan kamar dengan toilet
privat, ketiadaan toilet privat adalah keadaan yang cukup meresahkan saya. Akhirnya
dengan sedikit nekat saya memutuskan untuk cari rumah secara go show.
Saya tiba di Amsterdam pada tanggal 27 Agustus
ditemani kedua orangtua. Dari bandara Sciphol kami dijemput oleh kawan Ayah
saya yang sudah lama bermukim di Belanda, dengan mobilnya kami diantar sampai
Groningen, kira – kira memakan waktu 3 jam. Tanggal 29 Agustus kehidupan saya
sebagai mahasiswi S2 dimulai. Hari pertama saya sangat bersemangat, dan kenalan
dengan banyak orang dari berbagai negara. Ada yang dari Chile, Yunani, sampai
Ethiopia, tapi setelah itu grafik semangat saya menurun.
Karena saya belum mendapatkan rumah jadi kami
sekeluarga menginap di hotel dulu. Kami keliling dari makelar ke makelar
mencari rumah, dan memang mencari rumah dengan toilet privat susahnya bukan
main. Akhirnya pada hari keempat akhirnya kami menemukan rumah yang sesuai.
Saya tidak akan bilang beruntung, karena pada akhirnya rumah ini membawa banyak
masalah bagi saya.
Setelah dua minggu menemani saya di Belanda,
akhirnya kedua orangtua saya pulang ke tanah air. Baru satu hari ditinggal rasa
sepi sudah menghantui, sungguh tidak terbayang harus hidup sendirian selama
satu tahun.
Belum sempat saya menyesuaikan diri dengan udara
Belanda yang dingin, kelas – kelas telah dimulai. Jurusan yang saya ambil
adalah International Law and Law of International Organization. Diantara 6
orang anak Indonesia yang mengambil jurusan hukum di RuG hanya saya sendirian
yang mengambil jurusan itu, sisanya mengambil hukum bisnis. Saya benar – benar
merasa sendirian, ditambah lagi kenyataan dari 10 orang yang mengambil jurusan
itu, saya satu - satunya orang Asia, dan
termasuk yang paling muda. Awal – awal kuliah saya benar-benar frustasi karena
masalah bahasa. Jurusan yang saya ambil ini banyak kelas seminarnya yang
sedikit – sedikit bikin paper, presentasi, berdebat, dan bahkan sampai Moot
Court. Bahasa Inggris yang dipakai adalah Bahasa Inggris Hukum, banyak sekali terminologi –
terminologi hukum yang belum pernah saya dengar. Mayoritas teman – teman sejurusan
saya semenjak S1 sudah kuliah hukum dengan Bahasa Inggris, bahkan beberapa
lulusan dari Amerika atau United Kingdom, jadi bahasa sama sekali tidak menjadi
kendala bagi mereka. Awalnya ada 2 orang mahasiswi dari China yang mengambil
jurusan ini, tetapi karena kesulitan bahasa mereka ganti jurusan! Di saat saya
merasa kesulitan mengikuti kuliah, saya bertemu senior dari Indonesia yang juga
mengambil jurusan sama persis dengan saya. Harapan saya saat itu adalah
mendapat tips – tips untuk bisa sukses kuliah di jurusan itu. Bukannya
menyemangati dia malah bilang kalau saya salah ambil jurusan, katanya jurusan
kami adalah jurusan yang paling susah, pokoknya saya salah besar memilih
jurusan itu, dosennya killer, bisa
dibayangkan dong betapa down-nya
saya. Yang tambah bikin stress lagi, semenjak sekolah dulu saya termasuk
pelajar yang santai, tidak pernah mengejar nilai, prinsip saya SKS = Sistem
Kebut Sejam-dua jam. Tapi rekan – rekan pelajar dari Indonesia maupun mahasiswa
asing rajin luar biasa. Kuliah di kelas direkam, lalu dicatat ulang di rumah,
tiap hari ke perpustakaan sampai larut, haduh itu bukan saya sama sekali deh.
Memang sistem SKS saya tidak bisa diterapkan di Belanda apalagi dengan keadaan language barrier, akibatnya saya bisa
keteteran setengah mati. Ujian pertama saya dapat nilai 4, lalu saya dipanggil
oleh dosen saya yang juga ketua jurusan, dia tanya apa masalah saya, saya
bilang masalah bahasa. Dia bilang akan menyarankan ke pusat bahasa di kampus untuk
menyediakan kursus khusus bahasa inggris hukum, dan akan membantu mencarikan
buku yang bisa membantu meningkatkan bahasa inggris hukum saya. Awalnya saya
merasa dosen ini sangat perhatian, tapi ternyata omongan hanya tinggal omongan.
Di kemudian hari ketika saya menagih janjinya, hasil yang saya dapat hanya
bentakan dan gebrakan meja darinya.
Sistem perkuliahan di Belanda pun secara
mengherankan tidak banyak berbeda dengan sistem perkuliahan di Indonesia.
Semestinya saya ngga usah heran sih, karena Indonesia inikan hanya kebagian
sisa – sisa dari penjajahan Belanda. Sistem kuliah mendengarkan dosen
menguliahi kami, tidak berbedalah dengan apa yang saya alami di Indonesia.
Perbedaannya paling ada kelas seminar, tapi kelas seminar ini juga hal yang
baru diterapkan pada angkatan saya, dan kebanyakan bukan kelas wajib melainkan
pilihan. Ujiannya pun juga menghafal. Teman saya dari Kanada dan New Zealand sampai
marah – marah, mereka shock sekali sistem pendidikan di Belanda masih begitu
tradisional. Masih sistem mendengarkan dosen dan mencatat di kelas, ujian pun
menghafal. Padahal di negaranya semua bahan ujian tinggal di akses online, bahkan kuliah ada rekamannya yang
tersedia online, istilah ujian menghafal
juga sudah ketinggalan jaman. Waktu kuliah S1 di Atmajaya saja saya ingat sudah
banyak dosen yang menerapkan sistem open
book. Karena pada akhirnya nanti pada saat bekerja kita toh akan membuka buku
juga, yang penting adalah pembentukan pola pikir. Buat apa hafal, tapi pada
penerapannya nanti salah sasaran?
Saya juga sempat bertengkar hebat dengan dosen
saya yang pernah kerja di PBB, sebagai tim observasi di detik – detik Timor
Leste mau merdeka. Dia memberikan kuliah di kelas bahwa Indonesia pernah
menjajah Timor – Timor, karuan saja saya tidak setuju dengan pendapat tersebut.
Dan dosen itu sungguh marah, saya disuruh baca buku – buku di perpustakaan yang
notabene ditulis oleh dia sendiri atau orang dari luar negeri lainnya.
Banyak sekali kekecewaan yang saya temui ketika
bersekolah di Belanda. Mimpi tentang bersekolah dengan hati yang ceria itu
tidak tercapai. Hukum dan sistem yang katanya lebih jelaspun di Belanda tidak
saya temui. Waktu itu kontrak rumah saya sudah hampir habis, lalu saya mencari
rumah lain. Saya sudah mendapatkan rumah yang saya mau dan sudah tanda tangan
kontrak, walau belum taruh uang muka, rumah itu sudah diyakinkan akan disewakan
kepada saya. Tapi di saat saya seharusnya sudah bisa menempati rumah itu,
makelar rumah menyatakan bahwa rumah tersebut sudah disewakan kepada orang lain.
Rupanya tanda tangan kontrak itu tidak ada artinya di Belanda. Saya sungguh
kalang – kabut karena kontrak rumah lama sudah hampir habis dalam beberapa
waktu. Tidak ada ganti rugi atau usaha mencarikan rumah lain yang serupa oleh
mereka. Mau meneruskan perkara ke pengadilan pun saya hanya seorang pelajar
asing yang kebingungan mencari tempat tinggal. Untunglah dengan bantuan kawan,
saya bisa menemukan rumah lain. Tapi masalah mengenai rumah belum selesai
sampai disitu. Tuan tanah dari rumah sebelumnya tidak mau mengembalikan uang
deposit saya sama sekali tanpa penjelasan apa –apa. Mereka benar – benar
menghilang, sama sekali tidak dapat dihubungi, dan makelar rumah tidak mau
terlibat sama sekali. Saya sudah meminta bantuan kampus, tapi mereka sama
sekali tidak membantu. Beberapa orang menyarankan supaya saya pergi ke LBH,
tapi LBH itu juga tidak bisa dihubungi. Kedudukan kami sebagai pelajar asing
benar-benar lemah. Waktu saya begitu singkat disana, banyak sekali urusan yang
harus kami bereskan, tidak mungkin saya hanya sibuk mengurus masalah penipuan
itu. Akhirnya daripada sakit hati dan buang – buang waktu lebih lama, saya memilih melanjutkan hidup. Belakangan saya
tahu sepertinya di Belanda memang sudah menjadi modus untuk menahan deposit
rumah. Karena dari pengalaman tiga kali menyewa rumah, ditambah pengalaman
teman – teman selalu saja ada alasan dari tuan tanah untuk menahan uang deposit
kita, atau setidaknya menguranginya dalam jumlah besar. Berbagai alasan seperti
rumah kotor, ada yang rusak, dll akan digunakan. Di Belanda pun khususnya
Groningen, kecurian sepeda itu adalah hal yang biasa, terhitung selama 1 tahun,
3 sepeda saya hilang, padahal sudah digembok ganda.
Entah ini saya yang sial atau bagaimana, tapi yang
pasti dosen – dosen yang saya temui tidak terbuka pikiranya. Mereka kurang
lebih sama seperti pengajar di Indonesia pada umumnya, yang tidak suka apabila
murid – muridnya punya pemikiran berbeda dengan mereka. Hal ini juga diakui
oleh kawan saya seorang mahasiswi Belanda. Hal terparah adalah ketika saya
menuliskan thesis saya, intinya saya mengkritik habis Dewan Keamanan PBB dalam
hal pemberian sanksi ekonomi terhadap negara – negara miskin. Dosen pembimbing
saya bilang saya terlalu frontal dan dia merasa tidak bisa memberikan saya
nilai sampai saya mau merubah isi thesis saya, dengan alasan bagaimana jika
nanti seandainya saya melamar kerja ke PBB dan mereka tahu bahwa thesis saya
yang isinya mengkritik habis DK PBB telah mendapat approval dari dia? Mau
dikemanakan nama dia. Saya sungguh kecewa mendengar itu, karena pertimbangan
dia untuk tidak memberikan nilai bukan dengan dasar untuk kemajuan anak
didiknya melainkan demi kredibilitas pribadi dia. Lalu yang lebih menyesakan
lagi, saya menuliskan betapa sanksi ekonomi DK PBB telah membunuh 500.000 anak
tidak berdosa di Irak, tapi dengan mudahnya dia bilang bahwa saya terlalu
berlebihan menuliskan hal tersebut sebagai kejahatan besar yang melanggar human rights, karena 500.000 itu bukan
jumlah yang banyak dibandingkan dengan 26 juta jiwa penduduk Irak. Dan dosen
saya bukan satu – satunya orang yang berkata demikian, teman saya dari Polandia
dan Kanada pun punya pemikiran yang sama. Dari situ saya tahu, kebanyakan orang
di Barat memperhitungkan semuanya dengan data statistik dibandingkan dengan
rasa kemanusiaan. Saya merasa beruntung saya orang Indonesia yang punya rasa
kemanusiaan tinggi, saya tahu bahwa pembunuhan terhadap 1 nyawa tak bersalah
adalah pelanggaran human rights. Bagaimana
bila pembunuhan itu terjadi kepada anak atau istrinya? Akankah dia berkata itu
terlalu berlebihan untuk dikategorikan sebagai pelanggaran human rights?
Begitulah pengalaman belajar saya di Belanda,
tidak ada yang terlalu istimewa. Keuntungan belajar di Belanda, mencari bahan –
bahan masakan Indonesia tidak sulit, sehingga rasa homesick karena rindu masakan rumah bisa ditekan. Kemudian untuk
urusan jalan – jalan keliling Eropa juga lebih mudah karena letak Belanda di
tengah – tengah, sehingga akses kemana – mana lebih gampang. Lalu karena
Belanda negara yang dingin, baik cuaca maupun orangnya, saya menjadi sangat
bersyukur saya dilahirkan dan tinggal di negara bermandikan mentari dan orang –
orang yang ramah di Indonesia. Dan karena mengalami susah dan senang bersama –
sama, hubungan saya dengan teman – teman Indonesia di Groningen sangat akrab
dan kompak, sudah seperti saudara sendiri, ikatan pertemanan itu masih terasa
sampai sekarang. Rasa nasionalisme kami berkembang dengan pesat, hampir setiap
hari kami membahas Indonesia, menanti kiriman majalah – majalah Indonesia yang
kami baca bergantian, dan betapa inginnya kami pulang ke tanah air. Dulu mana
pernah kami ngobrol sambil membuka peta Indonesia, lalu bercita – cita
mengunjungi pulau – pulau yang belum pernah kami singgahi. Lagu – lagu seperti
Rayuan Pulau Kelapa, Bengawan Solo, atau pun Tanah Air, menjadi favorit kami.
Di sana saya juga bertemu dengan banyak anak – anak campuran Indonesia-Belanda
atau anak – anak Indonesia yang sudah lama tinggal disana. Kebanyakan dari
mereka bercita – cita bisa pulang kembali ke Indonesia. Sungguh mengharukan.
Kepergian saya ke Belanda memberikan saya satu
pelajaran berharga: Indonesia adalah negara yang indah, dan orang – orangnya
tidak kalah pintar dengan penduduk negara manapun. Saya yakin apabila masalah –
masalah esensial seperti pendidikan dan korupsi telah tertuntaskan Indonesia
akan menjadi salah satu negara paling maju di dunia, dan saya percaya itu tidak
akan lama lagi. Oleh karena itu kita harus terus membangun Indonesia, boleh
belajar sampai ke negeri orang, tapi jangan lupa membangun negeri.
Saran saya kepada teman – teman yang mau sekolah
ke Belanda, sebaiknya cari beasiswa, lalu cari info selengkap – lengkapnya,
jangan mudah percaya terhadap iklan – iklan, begitu juga saat mau
menandatangani kontrak, jangan takut untuk bertanya selengkap – lengkapnya,
kita punya hak untuk tahu dengan jelas tentang hak dan kewajiban kita, dan
jangan menaruh ekspetasi terlalu tinggi bila tidak mau kecewa.
Ditulis tanggal : 25 Juni 2009 - 26 Juni 2009
Comments
Post a Comment