Skip to main content

MENCARI SEKOLAH IDAMAN

 Tulisan lama sekali yang tidak pernah dipublikasi di mana pun:


MENCARI SEKOLAH IDAMAN

By: Kanti W. Janis

 

 Bisa pergi ke sekolah dengan hati yang gembira adalah hal yang selalu saya impikan. Menurut saya belajar itu seharusnya adalah proses yang menyenangkan, bukan sebaliknya. Berangkat dari keinginan itulah lantas saya mempunyai cita – cita untuk bisa sekolah di luar Indonesia, alias ke luar negeri. Cita – cita itu terjadi karena selama saya sekolah di Indonesia ( saya pernah belajar di sekolah negeri maupun sekolah swasta Katolik), saya sama sekali belum pernah merasakan nikmatnya belajar di sekolah. Saya selalu pergi ke sekolah dengan perasaan ketakutan, tertekan, dan malas. Bahkan sangking tertekannya dulu di sekolah saya sering sakit – sakitan, paling sering kena maag atau radang usus, yang ajaibnya kedua penyakit itu menghilang saat saya lulus sekolah. Lalu selepas SD, banyak teman – teman yang meneruskan sekolah ke luar negeri, dari mereka saya mendengar kisah enaknya sekolah di luar negeri. Perbedaan paling mencolok antara pendidikan di Indonesia dengan di luar negeri ( Australia atau Amerika) adalah guru – guru yang lebih pengertian terhadap muridnya. Tidak ada cerita murid yang dipermalukan habis – habisan di depan kelas, atau bahkan dijambak dan dipukul seperti yang pernah saya alami. Lalu materi yang diberikan pun tidak sebanyak di Indonesia. Murid juga dilatih untuk bisa mengungkapkan pendapatnya meskipun itu berbeda dengan gurunya. Dari cerita – cerita indah itulah saya bercita – cita untuk bisa sekolah ke luar negeri. Namun sebagaimana pun indahnya kisah – kisah itu saya tidak berniat untuk sekolah lama – lama di luar negeri, karena bagaimana pun juga saya sangat mencintai Indonesia. Pengalaman berlibur keluar negeri selama 10 hari saja sudah membuat saya rindu tanah air, jadi saya tidak bisa membayangkan jika harus tinggal bertahun – tahun di luar negeri. Akhirnya saya memutuskan kalau ada rejeki, ingin meneruskan sekolah S2 di luar negeri.

Begitu mendekati kelulusan S1, saya mulai mencari – cari informasi mengenai belajar kel3uar negeri. Tujuan awal saya adalah ketika itu adalah Melbourne, dengan pertimbangan banyak sahabat saya yang tinggal disitu, jadi saya tidak harus benar – benar memulai segalanya dari nol.

Setelah menentukan kota dan universitas tujuan, saya mencari tahu apa saja yang saya perlukan supaya dapat bersekolah di sana, termasuk datang ke pameran pendidikan Australia. Saat itu universitas yang saya tuju adalah Melbourne University. Mereka meminta TOEFL atau IELTS sebagai English Proficiency Test. Seumur hidup, saya belum pernah melakukan tes kemahiran berbahasa Inggris, dan hampir tidak pernah les Bahasa Inggris. Saya hanya belajar Bahasa Inggris di sekolah. Setelah saya mempelajari antara TOEFL atau IELTS, saya menjatuhkan pilihan untuk mengambil IELTS. Biaya yang dibutuhkan untuk tes IELTS saat itu ( tahun 2007) adalah 150 USD. Selain membeli buku persiapan tes IELTS, saya juga mengambil kelas persiapannya yang disediakan juga oleh tempat penyelenggara tes (IDP). Kelas persiapan itu berlangsung selama 5 hari, setiap hari, dalam 4 jam per-pertemuan. Menurut saya kelasnya cukup menyenangkan dan diajar langsung oleh native speaker, tentunya selain menyenangkan kelas itu juga sedikit banyak meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris saya. Dan hasilnya saya lulus tes IELTS. Kebetulan saat itu permintaan IELTS Universitas Melbourne adalah 6.5. Modal kelulusannya, percaya diri dan banyak latihan saja.

Ketika itu saya sudah diterima bersyarat ( conditional offer) di Universitas Melbourne, hanya tinggal menunggu hasil IELTS. Tapi Tuhan rupanya punya rencana lain untuk saya. Secara tidak sengaja saya melihat sebuah brosur bertuliskan, “ Pendidikan di Jerman hanya 40 juta rupiah”. Tidak, saya tidak lantas berubah pikiran untuk sekolah ke Jerman, tapi ke Belanda! Pikiran saya Belanda itu kan dekat – dekat Jerman pasti biaya pendidikannya kurang lebih tidak jauh dari Jerman. Pilihan saya layangkan ke Belanda dengan pertimbangan di Belanda program berbahasa Inggris jauh lebih banyak, selain itu ada juga seorang teman yang saya kenal di kelas IELTS begitu bersemangat bercerita tentang pilihannya untuk sekolah ke Belanda. Lalu setelah saya hitung – hitung lagi, ternyata biaya pendidikan serta biaya hidup memang lebih murah di Belanda daripada di Australia, hampir separuhnya. Sebagai perbandingan saat itu tuition fee di Australia untuk jurusan hukum rata – rata adalah 29000 AUS$ dan di Belanda 9000 Euro. Akhirnya keputusan saya bulat untuk memilih Belanda sebagai tempat tujuan meneruskan pendidikan master. Saya pikir lumayan juga kalau di Belanda bisa jalan – jalan keliling Eropa, kalau di Australia kan walau bisa jalan – jalan namanya masih di Australia juga.

Pengetahuan saya tentang studi di Belanda benar – benar nol. Saya tidak punya kontak dari satu pun teman yang sudah bersekolah di sana. Jadi saya pergi ke NEC ( saat ini NESO) untuk mendapatkan informasi studi di Belanda yang selengkap - lengkapnya. Di NEC semua informasi tersedia dengan lengkap dan gratis. Bahkan waktu itu untuk pengiriman dokumen juga gratis. Saya mendaftar ke dua Universitas: Amsterdam University ( UvA) dan Groningen University ( RuG), program yang saya pilih adalah LL.M. Akhirnya pilihan saya jatuh ke RuG, karena jurusan yang tersedia paling sesuai dengan keinginan saya. Selain itu tuition fee­-­nya juga lebih murah, ditambah endorsement-nya yang lebih canggih.

Persiapan saya pergi ke Belanda tergolong cepat, sekitar 3 bulan saja. Banyak dokumen yang harus diurus. Surat kelakuan baik dari kepolisian, akte kelahiran yang diperbaharui, legalisir ini - itu, menerjemahkan semua dokumen ke Bahasa Inggris, dan lain – lain. Komunikasi dengan pihak RuG pun juga sangat mudah, setiap baru kirim e-mail tidak jarang pada hari yang sama langsung dibalas, hal – hal yang bersangkutan dengan ijin tinggal disana pun diurus oleh pihak universitas. Kemudahan – kemudahan inilah yang membuat saya semakin tertarik

Detik – detik keberangkatan saya benar – benar mempersiapkan diri. Saya melatih diri dari hal yang kecil – kecil, mulai pergi ke Bandung sendirian, naik pesawat sendirian, lalu belajar masak makanan kesukaan, sampai belajar menjahit kancing. Intinya hal – hal kecil yang selama ini tidak bisa saya lakukan, saya coba lakukan sendiri, supaya nanti saat hidup sendiri saya tidak kerepotan oleh hal – hal remeh tesebut.

Lalu soal pencarian akomodasi di Groningen sebetulnya bisa diurus oleh housing office dari RuG, tapi yang membuat saya malas menggunakan jasa mereka adalah kami harus menaruh uang deposit sebesar 350 Euro, dan tidak ada jaminan bahwa kami akan mendapatkan rumah, ditambah 175 Euro sudah pasti hangus. Kendala lainnya, dari sekian banyak kamar yang ditawarkan sulit sekali menemukan kamar dengan toilet privat, ketiadaan toilet privat adalah keadaan yang cukup meresahkan saya. Akhirnya dengan sedikit nekat saya memutuskan untuk cari rumah secara go show.

Saya tiba di Amsterdam pada tanggal 27 Agustus ditemani kedua orangtua. Dari bandara Sciphol kami dijemput oleh kawan Ayah saya yang sudah lama bermukim di Belanda, dengan mobilnya kami diantar sampai Groningen, kira – kira memakan waktu 3 jam. Tanggal 29 Agustus kehidupan saya sebagai mahasiswi S2 dimulai. Hari pertama saya sangat bersemangat, dan kenalan dengan banyak orang dari berbagai negara. Ada yang dari Chile, Yunani, sampai Ethiopia, tapi setelah itu grafik semangat saya menurun.

Karena saya belum mendapatkan rumah jadi kami sekeluarga menginap di hotel dulu. Kami keliling dari makelar ke makelar mencari rumah, dan memang mencari rumah dengan toilet privat susahnya bukan main. Akhirnya pada hari keempat akhirnya kami menemukan rumah yang sesuai. Saya tidak akan bilang beruntung, karena pada akhirnya rumah ini membawa banyak masalah bagi saya.

Setelah dua minggu menemani saya di Belanda, akhirnya kedua orangtua saya pulang ke tanah air. Baru satu hari ditinggal rasa sepi sudah menghantui, sungguh tidak terbayang harus hidup sendirian selama satu tahun.

Belum sempat saya menyesuaikan diri dengan udara Belanda yang dingin, kelas – kelas telah dimulai. Jurusan yang saya ambil adalah International Law and Law of International Organization. Diantara 6 orang anak Indonesia yang mengambil jurusan hukum di RuG hanya saya sendirian yang mengambil jurusan itu, sisanya mengambil hukum bisnis. Saya benar – benar merasa sendirian, ditambah lagi kenyataan dari 10 orang yang mengambil jurusan itu, saya satu  - satunya orang Asia, dan termasuk yang paling muda. Awal – awal kuliah saya benar-benar frustasi karena masalah bahasa. Jurusan yang saya ambil ini banyak kelas seminarnya yang sedikit – sedikit bikin paper, presentasi, berdebat, dan bahkan sampai Moot Court. Bahasa Inggris yang dipakai adalah Bahasa Inggris  Hukum, banyak sekali terminologi – terminologi hukum yang belum pernah saya dengar. Mayoritas teman – teman sejurusan saya semenjak S1 sudah kuliah hukum dengan Bahasa Inggris, bahkan beberapa lulusan dari Amerika atau United Kingdom, jadi bahasa sama sekali tidak menjadi kendala bagi mereka. Awalnya ada 2 orang mahasiswi dari China yang mengambil jurusan ini, tetapi karena kesulitan bahasa mereka ganti jurusan! Di saat saya merasa kesulitan mengikuti kuliah, saya bertemu senior dari Indonesia yang juga mengambil jurusan sama persis dengan saya. Harapan saya saat itu adalah mendapat tips – tips untuk bisa sukses kuliah di jurusan itu. Bukannya menyemangati dia malah bilang kalau saya salah ambil jurusan, katanya jurusan kami adalah jurusan yang paling susah, pokoknya saya salah besar memilih jurusan itu, dosennya killer, bisa dibayangkan dong betapa down­-nya saya. Yang tambah bikin stress lagi, semenjak sekolah dulu saya termasuk pelajar yang santai, tidak pernah mengejar nilai, prinsip saya SKS = Sistem Kebut Sejam-dua jam. Tapi rekan – rekan pelajar dari Indonesia maupun mahasiswa asing rajin luar biasa. Kuliah di kelas direkam, lalu dicatat ulang di rumah, tiap hari ke perpustakaan sampai larut, haduh itu bukan saya sama sekali deh. Memang sistem SKS saya tidak bisa diterapkan di Belanda apalagi dengan keadaan language barrier, akibatnya saya bisa keteteran setengah mati. Ujian pertama saya dapat nilai 4, lalu saya dipanggil oleh dosen saya yang juga ketua jurusan, dia tanya apa masalah saya, saya bilang masalah bahasa. Dia bilang akan menyarankan ke pusat bahasa di kampus untuk menyediakan kursus khusus bahasa inggris hukum, dan akan membantu mencarikan buku yang bisa membantu meningkatkan bahasa inggris hukum saya. Awalnya saya merasa dosen ini sangat perhatian, tapi ternyata omongan hanya tinggal omongan. Di kemudian hari ketika saya menagih janjinya, hasil yang saya dapat hanya bentakan dan gebrakan meja darinya.

Sistem perkuliahan di Belanda pun secara mengherankan tidak banyak berbeda dengan sistem perkuliahan di Indonesia. Semestinya saya ngga usah heran sih, karena Indonesia inikan hanya kebagian sisa – sisa dari penjajahan Belanda. Sistem kuliah mendengarkan dosen menguliahi kami, tidak berbedalah dengan apa yang saya alami di Indonesia. Perbedaannya paling ada kelas seminar, tapi kelas seminar ini juga hal yang baru diterapkan pada angkatan saya, dan kebanyakan bukan kelas wajib melainkan pilihan. Ujiannya pun juga menghafal. Teman saya dari Kanada dan New Zealand sampai marah – marah, mereka shock sekali sistem pendidikan di Belanda masih begitu tradisional. Masih sistem mendengarkan dosen dan mencatat di kelas, ujian pun menghafal. Padahal di negaranya semua bahan ujian tinggal di akses online, bahkan kuliah ada rekamannya yang tersedia online, istilah ujian menghafal juga sudah ketinggalan jaman. Waktu kuliah S1 di Atmajaya saja saya ingat sudah banyak dosen yang menerapkan sistem open book. Karena pada akhirnya nanti pada saat bekerja kita toh akan membuka buku juga, yang penting adalah pembentukan pola pikir. Buat apa hafal, tapi pada penerapannya nanti salah sasaran?

Saya juga sempat bertengkar hebat dengan dosen saya yang pernah kerja di PBB, sebagai tim observasi di detik – detik Timor Leste mau merdeka. Dia memberikan kuliah di kelas bahwa Indonesia pernah menjajah Timor – Timor, karuan saja saya tidak setuju dengan pendapat tersebut. Dan dosen itu sungguh marah, saya disuruh baca buku – buku di perpustakaan yang notabene ditulis oleh dia sendiri atau orang dari luar negeri lainnya.

Banyak sekali kekecewaan yang saya temui ketika bersekolah di Belanda. Mimpi tentang bersekolah dengan hati yang ceria itu tidak tercapai. Hukum dan sistem yang katanya lebih jelaspun di Belanda tidak saya temui. Waktu itu kontrak rumah saya sudah hampir habis, lalu saya mencari rumah lain. Saya sudah mendapatkan rumah yang saya mau dan sudah tanda tangan kontrak, walau belum taruh uang muka, rumah itu sudah diyakinkan akan disewakan kepada saya. Tapi di saat saya seharusnya sudah bisa menempati rumah itu, makelar rumah menyatakan bahwa rumah tersebut sudah disewakan kepada orang lain. Rupanya tanda tangan kontrak itu tidak ada artinya di Belanda. Saya sungguh kalang – kabut karena kontrak rumah lama sudah hampir habis dalam beberapa waktu. Tidak ada ganti rugi atau usaha mencarikan rumah lain yang serupa oleh mereka. Mau meneruskan perkara ke pengadilan pun saya hanya seorang pelajar asing yang kebingungan mencari tempat tinggal. Untunglah dengan bantuan kawan, saya bisa menemukan rumah lain. Tapi masalah mengenai rumah belum selesai sampai disitu. Tuan tanah dari rumah sebelumnya tidak mau mengembalikan uang deposit saya sama sekali tanpa penjelasan apa –apa. Mereka benar – benar menghilang, sama sekali tidak dapat dihubungi, dan makelar rumah tidak mau terlibat sama sekali. Saya sudah meminta bantuan kampus, tapi mereka sama sekali tidak membantu. Beberapa orang menyarankan supaya saya pergi ke LBH, tapi LBH itu juga tidak bisa dihubungi. Kedudukan kami sebagai pelajar asing benar-benar lemah. Waktu saya begitu singkat disana, banyak sekali urusan yang harus kami bereskan, tidak mungkin saya hanya sibuk mengurus masalah penipuan itu. Akhirnya daripada sakit hati dan buang – buang waktu lebih lama, saya  memilih melanjutkan hidup. Belakangan saya tahu sepertinya di Belanda memang sudah menjadi modus untuk menahan deposit rumah. Karena dari pengalaman tiga kali menyewa rumah, ditambah pengalaman teman – teman selalu saja ada alasan dari tuan tanah untuk menahan uang deposit kita, atau setidaknya menguranginya dalam jumlah besar. Berbagai alasan seperti rumah kotor, ada yang rusak, dll akan digunakan. Di Belanda pun khususnya Groningen, kecurian sepeda itu adalah hal yang biasa, terhitung selama 1 tahun, 3 sepeda saya hilang, padahal sudah digembok ganda.

Entah ini saya yang sial atau bagaimana, tapi yang pasti dosen – dosen yang saya temui tidak terbuka pikiranya. Mereka kurang lebih sama seperti pengajar di Indonesia pada umumnya, yang tidak suka apabila murid – muridnya punya pemikiran berbeda dengan mereka. Hal ini juga diakui oleh kawan saya seorang mahasiswi Belanda. Hal terparah adalah ketika saya menuliskan thesis saya, intinya saya mengkritik habis Dewan Keamanan PBB dalam hal pemberian sanksi ekonomi terhadap negara – negara miskin. Dosen pembimbing saya bilang saya terlalu frontal dan dia merasa tidak bisa memberikan saya nilai sampai saya mau merubah isi thesis saya, dengan alasan bagaimana jika nanti seandainya saya melamar kerja ke PBB dan mereka tahu bahwa thesis saya yang isinya mengkritik habis DK PBB telah mendapat approval  dari dia? Mau dikemanakan nama dia. Saya sungguh kecewa mendengar itu, karena pertimbangan dia untuk tidak memberikan nilai bukan dengan dasar untuk kemajuan anak didiknya melainkan demi kredibilitas pribadi dia. Lalu yang lebih menyesakan lagi, saya menuliskan betapa sanksi ekonomi DK PBB telah membunuh 500.000 anak tidak berdosa di Irak, tapi dengan mudahnya dia bilang bahwa saya terlalu berlebihan menuliskan hal tersebut sebagai kejahatan besar yang melanggar human rights, karena 500.000 itu bukan jumlah yang banyak dibandingkan dengan 26 juta jiwa penduduk Irak. Dan dosen saya bukan satu – satunya orang yang berkata demikian, teman saya dari Polandia dan Kanada pun punya pemikiran yang sama. Dari situ saya tahu, kebanyakan orang di Barat memperhitungkan semuanya dengan data statistik dibandingkan dengan rasa kemanusiaan. Saya merasa beruntung saya orang Indonesia yang punya rasa kemanusiaan tinggi, saya tahu bahwa pembunuhan terhadap 1 nyawa tak bersalah adalah pelanggaran human rights. Bagaimana bila pembunuhan itu terjadi kepada anak atau istrinya? Akankah dia berkata itu terlalu berlebihan untuk dikategorikan sebagai pelanggaran human rights?

Begitulah pengalaman belajar saya di Belanda, tidak ada yang terlalu istimewa. Keuntungan belajar di Belanda, mencari bahan – bahan masakan Indonesia tidak sulit, sehingga rasa homesick karena rindu masakan rumah bisa ditekan. Kemudian untuk urusan jalan – jalan keliling Eropa juga lebih mudah karena letak Belanda di tengah – tengah, sehingga akses kemana – mana lebih gampang. Lalu karena Belanda negara yang dingin, baik cuaca maupun orangnya, saya menjadi sangat bersyukur saya dilahirkan dan tinggal di negara bermandikan mentari dan orang – orang yang ramah di Indonesia. Dan karena mengalami susah dan senang bersama – sama, hubungan saya dengan teman – teman Indonesia di Groningen sangat akrab dan kompak, sudah seperti saudara sendiri, ikatan pertemanan itu masih terasa sampai sekarang. Rasa nasionalisme kami berkembang dengan pesat, hampir setiap hari kami membahas Indonesia, menanti kiriman majalah – majalah Indonesia yang kami baca bergantian, dan betapa inginnya kami pulang ke tanah air. Dulu mana pernah kami ngobrol sambil membuka peta Indonesia, lalu bercita – cita mengunjungi pulau – pulau yang belum pernah kami singgahi. Lagu – lagu seperti Rayuan Pulau Kelapa, Bengawan Solo, atau pun Tanah Air, menjadi favorit kami. Di sana saya juga bertemu dengan banyak anak – anak campuran Indonesia-Belanda atau anak – anak Indonesia yang sudah lama tinggal disana. Kebanyakan dari mereka bercita – cita bisa pulang kembali ke Indonesia. Sungguh mengharukan.

Kepergian saya ke Belanda memberikan saya satu pelajaran berharga: Indonesia adalah negara yang indah, dan orang – orangnya tidak kalah pintar dengan penduduk negara manapun. Saya yakin apabila masalah – masalah esensial seperti pendidikan dan korupsi telah tertuntaskan Indonesia akan menjadi salah satu negara paling maju di dunia, dan saya percaya itu tidak akan lama lagi. Oleh karena itu kita harus terus membangun Indonesia, boleh belajar sampai ke negeri orang, tapi jangan lupa membangun negeri.

Saran saya kepada teman – teman yang mau sekolah ke Belanda, sebaiknya cari beasiswa, lalu cari info selengkap – lengkapnya, jangan mudah percaya terhadap iklan – iklan, begitu juga saat mau menandatangani kontrak, jangan takut untuk bertanya selengkap – lengkapnya, kita punya hak untuk tahu dengan jelas tentang hak dan kewajiban kita, dan jangan menaruh ekspetasi terlalu tinggi bila tidak mau kecewa.

                                                                                                       

 

Ditulis tanggal : 25 Juni 2009 - 26 Juni 2009

 

Comments

Popular posts from this blog

Danantara, Skema Sempurna Menjual Indonesia

Oleh: Kanti W. Janis IG @penulis_optimis Blog: kaweje.blogspot.com Jakarta, 1 Maret 2025 Aku meminjam uang untuk perusahaan-perusahaan milikku. Perusahaan itu ada yang jasa perbankan, jasa transportasi massa, perdagangan beras, perdagangan pupuk, sampai pengembang perumahan. Sayangnya aku gagal bayar karena terlalu banyak mempekerjakan orang-orang titipan keluarga yang tidak kompeten. Perusahaan-perusahaan itu merugi parah. Daripada bubar, akhirnya aku menggabungkan semua perusahaanku ke dalam sebuah perusahaan baru bernama PT. Kekenyangan. Lalu utang yang belum terbayar dari perusahaan-perusahan tersebut aku konversi menjadi saham PT. Kekenyangan. Saham itu aku tawarkan kepada kreditur dan beberapa calon investor. Kreditur tidak perlu menaruh modal tambahan lagi. Cukup ikut memiliki PT. Kekenyangan, ia punya kontrol dan turut menikmati keuntungannya. Maka si kreditur setuju dengan tawaran win-win solution tersebut. Karena utangku besar, utang yang telah diubah jadi saham PT. Kekeny...

Ingatan, Kapitalisme dan Kematian

Menurut tanggalan mana pun aku sudah tidak muda lagi. Setidaknya menengok kanan kiri ketika Lebaran satu-persatu orang yang dulu harus aku sungkemin sudah tidak ada. Itu penanda, kan, bahwa waktu terus bergulir. Sang Kala menelan kita berurutan, meski tak selalu sesuai urutan lahir. Misalnya, keponakan pertama ditelan lebih duluan waktu usianya baru delapan bulan. Uban mulai bertumbuhan, walau dibanding kawan segenerasi pertumbuhannya masih bisa dibilang lambat. Ada juga kawan-kawan dari generasi lebih tua tapi ubannya hanya satu dua. Oke, jadi menua dan banyaknya uban tak selalu pararel. Kerutan juga belum tampak. Sebagaimana kerutan hanya menggores tipis-tipis wajah ibu. Sang Kala memang sopan dalam menunjukan kehadirannya pada fisik kami seketurunan. Hingga akhir hayat di usia 63 tahun, Ayah tak mengalami kebotakan. Rambutnya tetap tebal rapat, wajahnya bebas kerutan, uban tumbuh tanpa mendominasi.  Kadang jika hanya berkaos santai saat berpergian seorang diri tak jarang aku dis...

Kesetaraan Dimulai dari Gratiskan Pembalut

 Kesetaraan Dimulai dari Gratiskan Pembalut Kanti W. Janis Jakarta, 27 Mei 2025 Masih banyak yang beranggapan dan membenarkan baik dalam hal gaji, upah, honor, maupun warisan, perempuan sepantasnya mendapat bagian lebih sedikit dari lelaki. Dalam membenarkan pendapat tersebut maka dipakailah berbagai landasan, mulai dari agama, adat hingga kebiasaan. Gaji, honor, dan warisan merupakan sumber pendapatan bagi seseorang. Bagi manusia modern yang telah jauh terpisah hidup dari alam, kita membutuhkan pendapatan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, termasuk aktualisasi diri. Nah, j ika mau bicara kebutuhan dari segi biologis, kebutuhan perempuan secara alamiah lebih besar daripada pria. Sejak usia pubertas hingga menopause, perempuan harus membeli pembalut. Rata-rata biaya yang dikeluarkan perempuan setiap bulan untuk pembalut sekitar Rp31.500-Rp42.000 ( dikutip dari Kumparan ). Menjalani menstruasi bukan sebuah pilihan, semua perempuan mengalaminya.  Sementara laki-laki ...