Tulisan Sketsa*
Lemah Abang
Rambut di atas bahunya, beberapa helai di-highlight biru harum manis, sisanya diwarnai coklat keemasan. Atasan batik yg dikenakannya bernuansa warna senada, biru, coklat keemasan dengan latar hitam.
Dia kasir di rumah makan limasan kayu Lemah Abang.
Kehadirannya langsung mencolok di antara perabotan dan bangunan kayu sederhana. Sepanjang pengamatanku rumah makan itu dikelola perempuan semua. Mulai dari yang masak, kasir, hingga pramusaji. Termasuk dirinya.
Memasuki bangunan itu bak mengintip era cerita silat Api di Bukit Menoreh, nasi dimasak dengan kayu, semua hidangan di dalam panci gerabah, pencahayaan seadanya. Di tengah suasana Jawa abad-16, perempuan yang kuperkirakan berusia awal 20an itu seperti datang dari masa depan.
Ketika tak sengaja melewati rumah makan itu, aku sempat tertawa membaca namanya: Lemah Abang. Terdengar terlalu vulgar, apalagi untuk hitungan Yogya. Lalu kemudian aku menertawakan ketololanku, _dasar otak piktor!_ Wajah Gunretno Sedulur Sikep terbayang. Bahasa Jawa ngoko yang kupelajari darinya terngiang. 'Lemah' itu artinya 'tanah', sementara 'abang' berarti 'merah'. Kutelusuri lagi, rupanya jalan tempat rumah makan itu berdiri adalah jalan Lemah Abang.
Pembendaharaan kata Jawaku lumayan bertambah karena pergaulan di lingkungan Sedulur Sikep selama perjuangan melawan pabrik semen---yang tak kelar-kelar sejak aku bergabung tahun 2014.
Selesai menyeruput habis wedang jahe serehku, aku berinteraksi dengannya untuk membayar. Semuanya Rp 35.000, katanya. Lebih dari tiga kali aku memastikan apakah benar perhitungannya? Masa iya perutku kekenyangan sekali dan puas bayarnya kurang dari Rp 50.000? Benar, jawabnya. Seketika aku tersadar bahwa sedang berada di pedesaan Bantul, bukan Jakarta Mahal. Lalu aku berdiri di luar limasan menunggu taksi menjemput. Si rambut biru keluar tergopoh-gopoh, celingak celinguk seperti mencari orang. Ah, benar kan jangan-jangan harganya salah! Aku makan puas sekali, semangkok besar lodeh kluwih, dua potong tahu bacem, perkedel, tempe teri orek, pakai nambah nasi merah, segelas air hangat, segelas wedang jahe sereh, lalu ditutup pisang goreng!
Tapi dia jalan keluar parkiran melewatiku, tanpa menatap.
Tak lama taksiku datang, saat sudah duduk manis di kursi belakang, taksi pun meluncur perlahan, aku bisa melihat gadis itu sedang menemui seorang pria sebayanya di satu pojokan parkir motor. Entah siapa dia, apa relasi mereka. Mungkin cinta terlarang? Mungkin baru pedekate? Semakin jauh kendaraanku meluncur, tidak kulanjutkan lebih jauh imajinasi tentang mereka.
Yogya, 19-20 Sept 2026
-Kanti W. Janis-
Comments
Post a Comment